Prolog

2:17:00 PM

Negara Kesatria Lautremont, orang menyebutnya Negara Pembiak Naga.

Utara ada Kekaisaran Zepharos, Selatan ada Kerajaan Chevron.

Terjepit diantara dua kekuatan besar, sebuah negara kecil dengan penduduk tidak lebih dari lima juta orang yang memiliki Akademi Khusus.

Akademi Pengendara Naga Ansarivan.

Mendidik dan membimbing remaja laki-laki dan perempuan yang membentuk kontrak dengan naga - sebuah Akademi untuk Pembiak Naga.


Part 1

Hari terakhir bulan Cancer.

Akademi Pengendara Naga Ansarivan telah menjadwalkan upacara penutupan di pagi hari.

Setiap siswa berkumpul di aula dan mulai gelisah karena liburan di mulai esok hari. Setiap dari mereka berharap upacara yang mengganggu segera diakhiri.

Upacara tidak dimulai sesuai yang dijadwalkan membuatnya semakin buruk. Tampaknya direktur akademi terlambat. Sebelum Ash menyadari, para siswa sedang mengobrol di antara kelompok-kelompok mereka.

"Huwa...."

Ash yang berada di tengah barisan bersama-sama dengan tahun pertama kelas Senios menguap dengan keras. Ia hampir tertidur.

"Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti tidak cukup tidur."

Raymond menatap Ash.

"Ini sudah ketiga kalinya untuk hari ini. Kau jadi pemalas."

Di sisi lain, Max menunjukkan ketegasannya kepada Ash. Dia tidak pernah bisa mentolerir sikap pemalas Ash.

"Ini bukan seperti aku mempunyai pilihan..... aku baru saja kembali dari Kota Fountain kemarin."

"Ngomong-ngomong, Eco tidak terlihat mengantuk?"

Raymond melihat Eco sekilas yang berdiri tepat di samping Ash dan tersenyum pahit. Tapi saat berikutnya, matanya melebar.

"Mungkinkah....! Tadi malam... kalian berdua telah melakukan hal dewasa...!"

"Bodoh! Kau berbicara terlalu keras! Itu mustahil!"

Pipi Ash memerah. Jika itu adalah Ash yang bulan lalau, ia tidak akan terganggu jika Raymond mengolok-oloknya dengan Eco.

Tapi sekarang, ia jelas terguncang.

Ash mengintip wajah Eco. Meskipun ia masinh mengantuk, sinar pagi yang bersinar ke ruangan ini lebih menekankan keindahan Eco, meskipun mereka berada di tengah-tengah barisan. Ini memberinya perasaan menakjubkan.

Rambut merah mudanya dan mencerminkan sinar lampu keperakan. Kulit putihnya dan irisan tipis pada tanduk kirinya yang Ash hancurkan telah kembali semula.

Baru-baru ini Ash bingung tentang perasaannya.

Hanya melirik Eco, ia jelas merasakan gejolak didadanya.

Melihat Ash tiba-tiba diam, Raymond bertanya dengan nada menuntut:

"Tunggu dulu! Bukankah jawabanmu sedikit aneh! Mungkinkah kau benar-benar...!"

Raymond! Diam...!"

Max mendorong Raymond ke samping dan menutup mulutnya.

"Apakah benar banyak hal terjadi di Kota Fontaine? Bahkan Kongres KOntinental-Elysium ditunda. Mungkinkah ada hubungannya denganmu dan Eco kan?"

Ash terkejut melihat betapa tajamnya Max.

"Sebenarnya, untuk kalian berdua tinggal di ibukota selama hampir dua minggu tidak terdengar alami bagiku. Setelah kejadian itu, pemerintah sibuk dengan berurusan dengan efek lanjutan tersebut. Jika aku Paladin, hal pertama yang akan ku lakukan adalah mengirim kalian kembali ke rumah. Kecuali kalau...."

Max menyesuaikan kacamatanya dengan jari-jarinya, dan melirik Ash.

"Kalian berdua tidak tinggal di sana tetapi ditahan di tahanan."

Ash terkejut dengan kemampuan kesimpulan Max. Dalam sesaat, ia tidak lagi mengantuk.


Part 2

Sudah dua minggu yang lalu-

Seekor naga misterius telah menyerang ibukota yang membuat Kongres Kontinental Elysium ditunda. Itu selalu menjadi topik pembicaraan semua orang sejak kejadian tersebut.

Adapun identitas sebenarnya di balik naga besar itu adalah Eco, yang telah terbangun sebagai keturunan dari keluarga Kaisar Naga Suci Avalon.

Pada akhir pertempuran, Ash berhasil mengubah Eco kembali ke bentuk manusia dan semua berakhir damai. Sampai apa yang menunggu mereka adalah hari-hari mereka interogasi.

Sama seperti apa yang Max katakan, Ash dan Eco tidak tinggal di Kota Fontaine, mereka dilarang meninggalkan ibukota.

Mereka baru dilepas kemarin sore. Sudah tengah malam ketika Silvia memberikan mereka tumpangan kembali dengan Lancelot. Tampaknya Silvia khawatir dengan keduanya dan memutuskan untuk tetap tinggal di Kota Fontaine. Jika mereka kembali ke Ansarivan dengan perjalanan darat, ia tidak akan pernah dapat menghadiri upacara penutupan ini.

Ini adalah alasan mengapa Ash dan Eco yang mengantuk.

Di sisi lain, Silvia yang harus mengantuk di depan antrian untuk tahun pertama dengan punggung tegak. Seperti yang diharapkan dari sang Putri, semua bisa merasakan aura kebangsawanannya.

"Apa pendapatmu tentang itu, Ash?"

Sementara Max meliriknya dengan tajam, Raymond sabar menunggu dia untuk menjawab.

"Itu..."

Bagi Ash, Raymond dan Max merupakan teman pentingnya. Ketika ia memikirkan untuk memberitahu mereka kebenarannya, sesuatu yang aneh terjadi.

-Bang!

Pintu ruangan tiba-tiba dibuka dengan keras.

Semua siswa terkejut.

"Hah? Apa yang terjadi?"

Eco yang telah tertidur langsung berdiri karena terkejut. Dia segera melihat situasi di sekelilingnya.

Ash juga melihat ke arah pintu.

Pada saat itu, perhatian telah di ambil darinya.

Di tengah-tengah pintu berdiri seorang gadis sederhana yang memancarkan perasaan elegan. Pakaian rapi yang dikenakannya adalah blus putih dan rok berwarna ungu kebiruan yang pas dengan sepatu bot hitam. Aura dia memberi kesan bahwa dia adalah putri dari seseorang dengan status sosial yang tinggi.

Selain itu, ada pembantu yang mengikutinya dari belakang. Ia mendorong troli dengan peralatan teh di atasnya.

Di bawah tatapan mata setiap siswa, gadis tersebut berjalan lurus ke arah panggung seolah-olah itu hal yang wajar dilakukannya.

"Salam untuk semua orang dari Akademi Pengendara Naga Ansarivan."

Ketika dia menyapa, pantulan ungu dari warna rambutnya yang keperakan tampak seperti ia menggunakan halo.

Ash menelan ludahnya saat melihat kecantikan gadis tersebut. Dia benar-benar seperti orang suci....

Tapi tidak seperti  semua patung-patung lain dari para Saint yang pernah ia lihat sebelumnya, gadis itu tidak memiliki kebaikan dan senyum peduli di wajahnya. Penampilannya tampak seperti ukiran es yang terbuat dari gletser Doruaama yang jauh di utara.

Setelah melihat sekilas seluruh siswa, ia berbicara:

"Saya Mirabel Lautreamont, putri ketiga. Atas perintah kakak saya Veronica, saya diminta untuk bekerja sebagai Direktur di Akademi ini."

Seluruh ruangan diam.

Ash juga menatap Mirabel. Dia menduga gadis tersebut berasal dari keluarga kelas tinggi tapu baginya untuk menjadi seorang putri....

Tiba-tiba SIlvia yang berada di barisan depan  berteriak:

"Anee-ue! Apa artinya ini? Saya mendengar anda pergi ke Universitas Hukum St Espada untuk melanjutkan studi...."

Setelah mendengar ucapan Silvia, Ash menyadari bahwa Mirabel adalah kakak Silvia.

Perhatian semua orang tertuju ke Mirabel. Bahkan instruktur yang berdiri di sepanjang dinding juga mencoba mencari tahu.

Tepat saat itu, bel yang menunjukkan jam 11:00 berdering memecah keheningan.

Saat dia mendengar suara bel, Mirabel memberikan pelayannya tatapan silau yang tajam.

"Eunice, waktunya minum teh."

"Tentu, Putri."

Pembantu yang mengikuti Mirabel seperti bayangan sedang membuat teh dengan kecepatan yang cepat.

"Silakan."

"Terima Kasih."

Mirabel mengambil secangkir teh panas dan duduk di kursi lipat yang di sediakan Eunoce. Dia kemudian duduk santai dan minum tehnya.

"....."

Semua orang heran melihat kejadian di depan mereka. Bahkan Silvia yag menunggu Mirabel untuk menyelesaikan tehnya sebelum ia mencoba berbicara.

Setelah beberapa saat, ia memberikan cangkir teh ke Eunice dan sekali lagi , kembali menatap Silvia.

"Jadi Silvia? Apa yang anda minta?"

"Saya bertanya bagaimana mungkin anda menjadi Direktur? Tolong jelaskan! Ngomong-ngomong, dimana mantan Direktur yang telah bekerja di sini sampai kemarin?"

"Oh.. Anda berbicara tentang orang tua yang bau tanah? Ia sekarang sedang liburan di tempat wisata populer di Kerajaan Chevron. Mengingat ia memiliki kenaikan gaji pensiun, seharusnya ia tidak mengeluh."

"Ap-!"

Silvia tidak bisa berkata-kata.


Part 3

"Hei.. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan upacara penutupannya?"

Eco yang berdiri di samping Ash bertanya. Dengan begitu banyak hal yang terjadi di sekitarnya, ia tidak lagi mengantuk.

"E.. aku tidak tahu?"

Saat ini, pikiranya berkelebat dengan cepat.

Sangat aneh Putri Ketiga yang di perintahkan untuk menjadi Direktur Ansarivan, berarti ada hubungannya dengan beberapa insiden di ibukota.

Identitas sebenarnya di balik naga besar adalah Eco dan sangat sedikit yang tau tentang hal ini.

Putri Pertama Veronica adalah salah satu dari mereka.

Pada awalnya, pemerintah Negara Kesatria melihatnya sebagai sesuatu yang berbahaya dan ingin Eco berada di bawah pengawasan ketat. Tapi Veronica adalah orang pertama yang tidak setuju dengan ide ini dan takut Eco akan berubah menjadi naga jika dipaksa untuk dibatasi pergerakannya.

Seberapa baik yang akan terjadi jika itu benar. Namun, Veronica tidak boleh dipandang rendah. Dia tidak akan melepas mereka dengan mudah. Ash tau cara berpikirnya dan pengalaman masa lalunya.

Yang sedang berbicara, Mirabel mengatakan 'Atas perintah kakak saya Veronica'. Jadi, dengan kata lain, Mirabel menjadi Direktur Akademi adalah rencana Veronica.

-Apa ini berarti Mirabel di sini untuk mengawasi kita..?

Tepat sebelumnya, Ash berada di bawah kesan bahwa dia baru saja deibebaskan dan liburan telah di mulai. Tapi sekarang, ia merasa seperti disiram oleh seember penuh air dingin.

Tiba-tiba, Mirabel tampak seolah teringat sesuatu dan berhenti berbicara dengan Silvia. Ia kemudian melihat sekeliling ruangan.

"Bagaimana bisa saya melupakan sesuatu hal yang penting. Apa Ash Blake dan naga muda Eco hadir?"

Perhatian semua orang tertuju ke mereka berdua, Ash dan Eco.

Mereka merasa seolah-olah sedang ditembus oleh penglihatan semua orang.

"Ho-!... Apa..?"

Eco mulai gelisah dan tidak bisa tenang. Ia segera bersembunyi di balik Ash.

Lagi pula, tidak hormat untuk tidak menjawab panggilan dari Mirabel.

"Kami di sini."

Ash mengambil napas dalam-dalam dan menyeret Eco ke panggung bersama-sama dengan dia. Eco yang sekarang seperti orang yang berbeda. Ia terlihat anggun dan memegang tangannya erat-erat. Hati Ash berdetak tidak karuan karena merasakan panas tubunya.

Selagi ia berjalan menuju panggung, siswa di depannya membuat jalan untuknya. Namun, Ash tidak dapat menikmatinya sekarang.

Dengan cepat, Ash tiba di panggung.

"Saya Ash Blake dan ia Pal saya, Eco."

Setelah melihat sekilas, Mirabel memberikan jawaban singkat:

"Ayo."

Sepertinya ia ingin mereka untuk melangkah ke atas panggung.

Ash berjalan ke panggung dengan banyak pasang mata menatapnya.

Ia merasa malu dengan Eco memegang tangannya sepanjang waktu, tetapi Eco terus memegang tangganya tanpa ada niat untuk dilepaskan.

Setelah mereka tiba di panggung, Mirabel terus melihat mereka. Matanya tampak transparan yang berbeda dari mata biru SIlvia dan Veronica.

TIba-tiba Mirabel menulurkan tangannya ke arah Eunice.

"Ambilkan pedang."

"Tentu."

Ash shock.

Eunice mengambil sebuah pedang tipis yang tajam dari troli. S-sebenarnya ada sesuatu seperti ini di troli...

Setelah Mirabel mengambil Rapier, ia membuka sarungnya. Pedang putih dengan jelas memantulkan sinar matahari.

Mirabel kemudian mendekati Ash dengan tangan kanannya memegang Rapier dan tangan kirinya memegang sarungnya.

Siswa mulai menjadi gelisah. Mirabel mengatakan kepada mereka dengan suara dingin:

"Diam!"

Suaranya jelas tidak keras tapi itu juga pasti tanpa kemarahan.

Tapi cukup untuk melakukan tugasnya.

Para siswa merasakan tekanan dari suaranya saja.

Setelah semua siswa diam, Mirabel berbalik kembali melihat Ash.

"Saya punya pesan untukmu dari ayahku Oswald."

"Dari Paladin..?"

Ash bingung.

"Bukankan ayah saya memberikan anda sebuah jam tangan perak yang merupakan bukti seorang Dragner?"

"Ia tentu saja..."

"Hanya saja upacara kesatria tidak pernah dilakukan, kan?"

"Yang tampaknya harus terjadi. Sepertinya benteng itu bukan tempat yang cocok melakukan upacara tersebut."

"Dengan alasan tersebut, saya, Mirabel Lautreamont menggantikan tempat ayahku mengambil alih upacara kesatria anda. Silakan berlutut."

"D-dengan senang hati."

Ash segera berlutut dan menyuruh Eco yang sedang berdiri untuk melakukan hal yang sama dengan suara rendah.

Namu, Eco biasanya hanya melihat orang-orang sebagai 'bodoh, bego, dan tolol'. Apakah ia berlutut diam-diam tanpa perlawanan jika yang ia hadapi adalah seorang anggota keluarga kerajaan?

Ash berkeringat banyak.

"Baiklah..."

Yang mengejutkan, ia melakukan apa yang di suruh. Ia berlutut tepat di samping Ash.

"Apa yang aku lakukan adalah untukmu."

Ia bergumam dan tanpa diduga pipinya kemerahan.

Sementara jantung Ash berdetak kencang. Mirabel mulai mendeklarasikan:

"Ash Blake dari Akademi Penunggang Naga Ansarivan kelas Senios tahun pertama. Pada usia tujuh tahun, engkau mengambil bagian dalam upacara Orphan di Hutan Albion. Engkau yang telah disucikan oleh Ibu Naga dan menerima Orphan. Dengan itu, engkau telah resmi menjadi seorang Breeder. Dan sekarang, Pal engkau, Eco melampaui harapanmu dan memiliki pertumbuhan yang luar biasa. Sekarang, mewakili Paladin Oswald, atas namaku Mirabel Lautreamont akan kutempatkan Rapierku di bahumu."

Mirabel menempatkan Rapier di bahu Ash dengan mulus.

Itu adalah bagian dari upacara kesatria. Meskipun rapier tersebut tampak biasa-biasa saja, itu benar-benar terasa berat di pundaknya.

"Apakah anda sebagai seorang kesatria bersumpah setia kepada keluarga kerajaan Lautreamont?"

"Saya bersumpah atas nama Seikoku saya dan Pal tercinta."

Ash sengaja menyatakan janji yang standar. Bahu Eco bergetar sedikit saat Ash berkata 'Pal tercinta'. Namun, Ash tidak memiliki kemewahan untuk mengintipnya.

Setelah itu Mirabel tetap diam. Tindakannya membuat Ash menjadi bingung, tapi ia teringat sesuatu yang penting.

Ia memegang jam tangan perak yang diberikan oleh Oswald dan meletakkannya di samping dadanya. Ini juga merupakan bagian dari upacara kesatria.

Setelah Mirabel menyarungkan pedangnya, upacara berakhir. Tiba-tiba semua orang bersorak-sorai. Itu karena upacara kesatria biasanya diadakan di St Rosa. Katedral Maria di Ibukota, tapi sekarang mereka memiliki kesempatan untuk melihat itu disini.

Seluruh ruangan penuh dengan tepukan dan suara siswa bersorak seolah-olah semua orang sudah lupa tentang upacara penutupan.


Part 4

"Ck, hari apa ini.."

Ash meninggalkan pemandian umum di rumah Apollo dengan handuk di bahunya. Karena jam sudah menunjukkan lampu dimatikan, koridor itu kosong. Ash mencoba mengingat semua peristiwa yang terjadi pagi ini ketika ia berlari menaiki tangga.

Setelah kembali ke kelas setelah upacara, ia dibanjiri pertanyaan. Seperti yang diharapkan, sebagian besar pertanyaan yang diajukan seputar Eco.

Perbedaan antara Dragner dengan Breeder hanya bisa dinilai dari Pal mereka.

Meskipun naga lahir baik dalam bentuk Strada, Hydra atau Asia, setelah dirawat, mereka kemungkinan utnuk berkembang menjadi Maestro misterius. Mereka memiliki bulu putih dan sihir dalam jumlah besar. Bagi Negara Kesatria, mereka adalah harta negara.

Pada dasarnya, ketika Pal berkembang menjadi Maestro, seorang Breeder

memenuhi syarat untuk menjadi Dragner. Namun, Eco merupakan Pal dalam bentuk

seorang gadis. Untuk menyatakan secara jelas, ia merupakan pengecualian yang

tidak bisa sesuai dengan tingkatan kelas. Terlepas daripada itu, Pladin

Oswald telah menganugerahkan Ash gelar Dragner.

Itulah alasan mengapa sebagian siswa penuh dengan pertanyaan.

Kecuali jika mereka tahu bahwa Eco adalah naga besar yang telah menyerang

ibukota, mereka harus mengakuinya. Kehadiran yang luar biasa dan kekuatan

penghancur yang ia miliki dapat menghancurkan sebuah pesawat, ditambah

menjadi keturunan yang bertahan dari Kekaisaran Naga Suci Avalon. Bahkan

Maestro bersujud di depannya.

Tentu saja Ash tidak mempublikasikannya. Karena, ia dilarang untuk

melakukannya.

Tepat setelah Eco terbangun, ia menghancurkan Pesawat Kekaisaran Zepharos

yang besar, Beowolf. Sudah jelas bahwa Kekaisaran layak mendapatkannya.

Namun, Kekaisaran tidak mengakui kesalahan mereka dan malah menyalahkan

Negara Kesatria.

Di sisi lain, Kerajaan Chevron yang tidak menderita kerugian tidak senang

bahwa Negara Kesatria tidak memberikan informasi tentang Eco kepada mereka.

Ash baru saja tau dari berita terkini.

Singkatnya, Eco merupakan ancaman internasional.

"Apa yang akan ku lakukan di sini..?"

Ash tiba-tiba teringat Putri Mirabel. Meskipun ia tidak tampak seperti

Veronica, namun ia juga tidak terlihat seperti kacang yang mudah retak.

Dengan semua masalah tersebut berputar di kepalanya, Ash kembali ke

kamarnya.

Eco bergulingan di tempat tidurnya untuk membunuh waktu tapi ia segera

melompat setelah melihat Ash.

"..Hah?"

Ash merasa sesuatu yang salah dan ia segera menyadarinya.

Itu benar, Eco yang selalu tidur telanjang bulat sekarang mengenakan daster

yang lucu.

Kain putih polos yang terbuat dari sutra. Di bawah lampu-lampu kristal Naga

yang menyala, garisnya bisa terlihat jelas. Bahkan payudara dan putingnya

hampir bisa dilihat.

Sangat jelas bahwa Eco tidak mengenakan pakaian dalam apapun. Ash memiliki

waktu yang sulit saat ia tampak lebih memikat daripada saat ia telanjang.

"D-dari mana kau mendapatkan baju itu?"

Eco tiba-tiba menjadi gelisah ketika ia bertanya.

"..Ini adalah salah satu pakaian lama Silvia yang diberikan Cosette

kepadaku."

"Tapi bukankah kau benci tidak mengenakan apapun ketika tidur? Kau bahkan

mengatakan bahwa kau tidak bisa tidur tanpa telanjang."

Eco menyilangkan lengannya dan menatap Ash.

"... Apakah kau tidak bertindak mencurigakan ketika aku telanjang?"

"Yah, aku seorang pria. Aku tidak mungkin tenang ketika ada seorang gadis

telanjang di depanku."

"Aku tidak cukup benar-benar tahu perasaan apa itu... Bagaimanapun, aku

hanya harus mengenakan pakaian."

Tiba-tiba Eco tersipu malu dan perlahan-lahan menengok  Ash.

"I-itu sebabnya.... Kau.. bisa datang.. ke sini.."

"Hah?"

"Aaak... Kau idiot! Aku katakan bahwa kita bisa tidur bersama-sama! Mengapa

kau harus membuatku menceritakan semuanya!"

Ash meragukan apa yang baru saja didengarnya.

Eco yang biasa memerintahkan Ash tidur di lantai dan memonopoli seluruh

tempat tidur itu sekarang meminta Ash untuk tidur bersama.

Apa yang terjadi padanya?

"Sudahlah. Aku menggunakan lantai sebagai tempat tidurku dan tempat tidur

adalah milikmu."

Singkatnya, Eco mulai marah padanya karena terlalu mengkhawatirkan.

"Aku bilang aku mengizinkannya! Kau selalu berpura-pura bahwa itu bukan

apa-apa... Tetapi tubuhmu masih terluka. Luka yang belum sembuh, kan?"

Ash tidak bisa berkata-kata.

Sebenarnya, cedera yang ia dapat selama pertarungan dengan Gawain dan

Mordred benar-benar belum pulih. Kadang-kadang, ia masih merasakan sakit

dari tubuhnya. Tapi ia tidak pernah berharap Eco akan memperhatikannya.

"Bahkan cedera yang bisa disembuhkan tidak pernah bisa disembuhkan jika kau

tidur di lantai."

Eco berbalik dengan punggung menghadap Ash dan menutupi dirinya dengan

selimut. Ia bahkan ingat untuk memberikan beberapa ruang untuk Ash.

Sembari menjaga posisinya, ia mengintip Ash.

Pandangan mereka terhubung.

"...!"

Eco tiba-tiba memerah dan ia memalingkan kepalanya kembali. Tampaknya ia

tidak akan mengambil kata-katanya. Ash membulatkan pikirannya dan meredupkan

lampu. Dengan bantuan tangannya, ia berjalan menuju tempat tidurnya.

"M-maaf untuk gangguannya."

Ash tegang. Tidak hanya itu ia berbicara dengan sopan bahkan hampir

menggigit lidahnya.

"Kau bertindak aneh."

Hal ini mungkin disebabkan oleh tindakan Ash yang membuat Eco tersenyum.

Namun berkati itu, ketegangan berkurang.

Ash meletakkan badannya di samping Eco. Berpikir kembali, Eco meremas

tangannya ke tempat tidur Ash berkali-kali dalam tidurnya. Dan ia telanjang

saat itu. Situasi ini bukan apa-apa baginya.

Namun, Ash menyesali apa yang baru saja ia pikirkan beberapa saat kemudian.

Ada bau manis yang berasal dari tubuh dan rambut Eco.

Itu jelas bau seorang gadis.

"...!"

Jantungnya berdegup dengan cepat. Eco meremas tempat tidur dan mereka tidur

bersama sejak awal adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Ketika ia melihat Eco, sepertinya Eco masih menjaga kegugupannya. Ada perasaan misterius yang berasal dari kegugupan tubuh mungilnya. Yang berkata, apakah itu Eco yang biasa, ia pasti akan tertidur saat ia berbaring di tempat tidur.

Tiba-tiba, Ash ingat percakapannya dengan Eco.

Di ruang tamu di Kota Fontaine, ia menyebutkan seperti ini:

Saya senang bahwa... Saya Pal-mu... dan kaau kesatriaku.... T-tapi.. aku benci ini. Aku tidak bisa puas hanya dengan ini! Meskipun aku tidak yakin mengapa, aku tahu bahwa aku tidak bisa menerima ini!

Itu adalah pertama kalinya Eco dengan bebas mengungkapkan perasaannya sendiri. Pada saat itu, Ash juga mencium Eco.

Pada saat itu juga, Eco tidak tampak menolaknya. Untuk kekecewaannya, Sebelum mereka bisa berciuman, mereka diganggu. Setelah itu, tidak pernah ada suasana aygn tepat untuk mencobanya lagi....


Part 5

.. Pada akhirnya, Eco tertidur setelah mematikan lampu selama satu jam. Ash menarik napas lega ketika ia mendengar dengkurannya. Tapi kemudian ia dihadapkan dengan tantangan yang lain.

Kadang-kadang, ketika Eco berbalik, bahu mereka bersentuhan. Sejak piyama mereka terbuat dari bahan yang tipis, Ash merasa kulit mereka bersentuhan satu sama lain. Atau yang lain, adalah wajah Eco yang terlalu dekat yang menyebabkan jantungnya berdegup kencang.

Pada saat yang sama ia menyadi pesona Eco, Ash menatap bibirnya. Dia sekali lagi ingat ciuman mereka yang belum selesai.

Bagaimana jika sekarang aku memberinya ciuman... Ash berjuang mengusir pikiran terliarnya.

"Ya Tuhan. Aku tidak akan pernah bisa tidur..."



"Mirabel Lautreamont~ A.S.B. 1365.7~" di tutup.




Artikel Terkait

Previous
Next Post »