MKnR Vol 08 - Chapter 06

1:04:00 PM
5 Agustus 2092 / Okinawa - Villa - Pantai Onna


Tadi malam terus berlanjut sampai larut. Setibanya di Okinawa kemudian mengadakan pesta sampai menjelang tengah malam membuat sulit di hari pertama.

Namun, meskipun demikian, bagiku untuk bangun sebelum matahari terbit, bisa dijelaskan sebagai kebiasaan.

Sejujurnya, aku ingin tidur sedikit lebih lama, tapi aku tidak ingin berubah menjadi seorang wanita hina. Sampai tertidur kembali sangat tidak terpikirkan. Dengan usaha keras, aku mengirim energi untuk untuk anggota badanku, turun dari tempat tidur dan menarik tirai, membuka jendela untuk membiarkan udara segar ketika aku di situ. Semenjak aku di lantai dua yang menghadap ke halaman belakang, tidak ada kekhawatiran tentang piyamaku terlihat dari luar.... Meskipun menjaga penampilan pertamaku lebih pas sebagai etiket seorang wanita.

Merasakan hembusan angin laut saat aku menarik napas dalam-dalam, membuat dadaku membengkak keluar.

Dan saat aku melihat ke bawah, ada saudaraku yang sedang berlatih.

Menundukkan badan, dia akan mengambil langkah dengan kaki kanan, mengulurkan lengan kanannya, serta mengulurkan lengan kirinya.

Kemudian posisinya berubah, ia akan mengambil langkah dengan kaki kiri, dan baru seperti yang kupikir ia mendorong keluar lengan kirinya lagi namun dengan cepat menariknya kembali, seolah-olah berpotongan, mengulurkan lengan kanannya.

Memutar tubuhnya saat ia dengan cepat mengambil langkaj dengan kaki kiri dan kaki kanan, lengan kanannya bertenaga pindah dari dalam ke luar, lengankiri dari luar ke dalam, lengan kanan ke atas, lengan kiri ke bawah.

Tampaknya seperti semacam seni bela diri atau karate yang aku tidak ketahui.

Di masing-masing lengan ia memegang sebuah - satu kilo - pemberat, dengan ia bergerak dengan gerakan yang tepat. Mereka terlihat seperti sikap yang digunakan oleh pemimpin tari atau aktor panggung.

Membuat jalur di lingkaran yang ada di sekitar pinggiran setengah dari halaman belakang, kakakku akhirnya berhenti bergerak, menghembuskan napas dalam-dalam, dan bersantai.

-Eh, itu selesai ...... ?

Aku menatap dengan tatapan yang buruk di belakang kakakku saat ia mengambil napas dalam-dalam, berharap ia menunjukkan "tarian" yang indah lagi.

Biarkan aku melihat lebih banyak.

Hanya sekali tidak apa-apa.

Itu luar biasa darimu, untuk adik kecilmu ....

-Tunggu!

Aku mendapatkan kesadaran kembali.

-Tidak mungkin, aku telah terpesona?

Aku menutup tirai dengan terburu-buru, lalu menjauh dari jendela.

Rel tirai membuar suara yang cukup keras, tapi itu tidak akan terdengar dari halaman .... ku pikir.

Aku bersandar di dinding dan melorot ke bawah.

Wajahku panas.

Jantungku berdebar dengan kencang dan tidak tenang bahkan saat tanganku memegang dadaku.

-Dia tidak menyadarinya kan?

Kakakku tidak mendongak sekalipun.

Dia tidak seharusnya melihatku berdiri di jendela.

Namun meskipun begitu, karena aku berdiri menatap seakan aku terpikat, aku merasa kakakku melihatku juga.

◊ ◊ ◊

Seperti biasa, sarapanku dibuat oleh Sakurai-san. Villa ini juga secara teknis memiliki mesin memasak otomatis yang dikelola HAR, tapi  Sakurai-san sendiri menegaskan bahwa "orang-orang yang bergantung pada mesin otomatis menjadi hambar" dan dengan begitu, semua makanan di buat sendiri kecuali dalam keadaan luar biasa.

Baru-baru ini, aku ikut membatu juga, tapi sejujurnya, keahlianku masih tahap "belum berkembang".

"Apakah anda punya rencana untuk hari ini?"

Ketika aku meneguk teh setelah makan, Sakurai-san mengajukan pertanyaan. Pertanyaan itu seharusnya ditujukan kepada Okaa-sama, tapi aku tahu bahwa pertanyaan itu untukku juga.

"Jika tidak terlalu panas, aku ingin pergi ke laut."

Berpikir sedikit, Okaa-sama memberikan jawabannya.

"Haruskah aku menyiapkan yacht?"

"Hmm ... yacht yang berlayar kecil akan menyenangkan."

"Mengerti. Apa jam 4 tidak apa-apa?"

"Ya. Silahkan."

Dengan pengalamannya, Sakurai-san dengan lancar menyimpulkan secara spesifik dari kata-kata singkat Okaa-sama dan menyimpulkan niatnya, efisien membuat jadwal.

Ini berarti jadwalku di jam 4 telah diputuskan. Okaa-sama kemungkinan besar bermaksud menghabiskan waktu sampai saat itu di dalam villa.

Sekarang, apa yang harus aku lakukan?

"Miyuki-san, jika anda tidak mempunyai rencana, bagaimana kalau pergi ke pantai? Bahkan jika hanya berbaring, saya pikir itu akan menjadi cara yang baik untuk menyegarkan diri anda."

Melihatku melamun, Sakurai-san membuat saran.

".... Ku kira begitu. Lalu, aku rasa aku akan bersantai di sore hari."

"Saya akan membantu anda mempersiapkan. Ufufu, jika anda mengenakan pakaian renang maka anda harus hati-hati mengoleskan tabir surya di setiap bagian kecil tubuh anda."

... Eh? Itu...

".... Tidak, terima kasih. Aku bisa melakukannya sendiri."

"Sekarang-sekarang, tidak perlu menahan diri."

..... Sakurai-san dengan aneh sepertinya mengantisipasi sesuatu.

"Tentu kita harus menutup semua bagian kecil di bawah baju renang juga. Ufufufu ....."

"Uh, uhmmm Sakurai-san?"

Sakurai-san, untuk beberapa alasan, kau benar-benar terlihat menakutkan sekarang!

"Ayo, mari kita bersiap-siap."

Aku mencoba pergi diam-diam, tapi sebelum aku bisa bergerak satu inci, Sakurai-san menggenggam pergelangan tanganku.

Cengkeramannya tidak begitu kuat untuk menyakiti, tapi pasti tidak ada getaran darinya.

Aku diseret seperti itu sampai ke lantai dua, dan ketika aku melihat sekilas pada kakakku, aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika ia tertawa ke bawah dengan wajah tanpa ekspresinya.

..... Meskipun dia tidak seharusnya memiliki perasaan manusia tersebut.

 ◊ ◊ ◊

Dengan tangan Sakurai-san, krim sunblock benar-benar di oles dengan teliti di setiap inci tubuhku, dan saat aku tersandung keluar dari villa ke pantai, aku sangat lemas.

".... Mengapa aku begitu lelah untuk hal ini?" Aku mengeluh tidak jelas untuk diriku sendiri.

Dalam hal apapun, aku berasumsi apa yang aku anggap postur santai yang sederhana, melepas jubah, kemudian pergi ke bahwah payung dan diatas tikar yang telah disiapkan kakakku.

Baju renang terpisah yang ku pakai memang tidak cukup untuk disebut sebagai bikini, tapi masih cukup banyak bagian yang terekspos. Ini bukan sesuatu yang kupilih, tapi sekali lagi Sakurai-san tidak benar-benar memberiku banyak pilihan.

Itulah yang kupikir sih, tapi saat melihatku, kakakku tidak bergerak satu inci pun. Mengenakan celana selutut di bawah jaket, dia duduk disebelahku dengan matanya yang menghadap ke laut.

Lutut yang sedikit ditekuk, terlihat seolah-olah sedang melamun.

Ketika aku mencuri pandang ke dia, seolah-olah ia tidak menyadariku, hanya menatap ke kejauhan. Aku ingin tahu apakah ia bosan?

Dia sehat, anak laki-laki yang cukup bugar di tahun pertama SMP, tapi dengan laut tepat di depannya, semua yang dilakukan hanya duduk. Itu saja.

Apakah ini normal? Didorong oleh pertanyaan itu, aku memindahkan badan dengan siku, dan menyelinap sekilas pada payung lain disekitar mereka.

Itu sebuah .... keluarga kupikir. Seorang ayah dan ibu, dan seorang gadis yang mungkin duduk di tahun pertama atau kedua sekolah dasar.

Sama seperti yang kupikir, anak laki-laki yang sedikit lebih tua dari gadis itu datang dengan berlari dari pantai.

Anak itu memegang tangan ayahnya, dan terlihat untuk mencoba menarik tangan ayahnya ke laut.

Payung disebelah mereka kosong. Ada berbagai barang yang mengindikasikan keberadaan dua orang..... Ada dua jaket, yang berarti dua orang kan?

Keduanya mungkin sudah pergi ke laut.

Di luar itu.....whoawhoawhoawhoawhoa!

Aku buru-buru menundukkan kepalaku.

Setelah mencoba mengintip lagi, aku dipaksa untuk menundukkan kepalaku lagi segera.

Di sana, seorang pria SMA— aku tidak berpikir dia  seorang mahasiswa— menggosokkan minyak ke seorang gadis.

Di area berbahaya juga. Hey, bukankah dia akan mengolesi semua tubuhnya?

Dan di tempat terbuka saat ini, apa, apa, apakah mereka tidak malu sama sekali?

Anak laki-laki itu tidak khawatir tentang sekitarnya. Membelai lebih jauh tubuh gadis itu, ia tertawa cukup bahagia. Itu bukan ungkapan yang menyenangkan untuk dilihat.

Apa anak laki-laki suka melakukan hal semacam itu?

Seorang wanita paruh baya tertawa— Sakurai-san pasti akan tertawa, tapi aku membaca di sebuah majalah yang laki-laki suka menyentuh wanita. Aku juga mendengar dari teman-teman di sekolah ketika kakak kelas pergi berkencan, mereka mempunyai masalah dengan pacarnya yang berusaha menjangkau tubuh mereka. Berpikir apa yang mereka lakukan terhadap gadis, aku marah pada saat itu. Usia mengerikan dari "sex bebas" berakhir setengah abad yang lalu!. Lagi pula, kau melakukan sesuatu ke siswa SMP!

..... Tidak baik, tidak baik. Tenang. Aku tidak bisa menyebabkan es di pantai di Okinawa di tengah musim panas.

Tapi, wanita itu tidak tampak menolaknya.

Itu mungkin saja karena wanita itu berbaring sepertiku dan tidak mudah terlihat, tapi karena pria itu diizinkan untuk melakukannya aku menebak wanita itu baik-baik saja.

.... Sama sepertiku?

Aku berbaring disini, dan disana ada orang yang duduk di sebelahku.

Aku bertanya-tanya, apa ia berpikir sesuatu yang mirip? Apa dia mampu melakukan hal seperti itu?

Aku menjulurkan leher sedikit, melihat lagi wajah kakaku, dan kakakku menatapku.

Mata kami bertemu.

Berbeda denganku yang diam membeku , dia hanya melihat sekeliling untuk satu, dua, tiga detik, sebelum kembali melihat ke arah laut.

Aku kembali menguasai tubuhku dengan susah payah, dan tidak bisa mengatakan apa-apa, hanya menyembunyikan wajahku yang memerah dengan tanganku.

Aku berpikir tentang mengurai rambut dan menggunakannya sebagai semacam tirai, tapi akan jadi merepotkan pada akhirnya.

Berbaring tengkurap, aku tidak bisa melakukan apa-apa tapi hanya menunggu pipiku untuk tenang.

Denan pandanganku yang tidak jelas, kepala - sekarang kembali normal - aku mulai diisi dengan segala macam pikiran yang seharusnya tidak aku pikirkan.

Dia, bukankah dia mulai menatapku?

Bagian apa yang dilihat dariku?

Punggung? Kaki? Atau......

Aku bertanya-tanya, apakah orang ini memiliki minat yang sama? Apakah dia berpikir ingin menyentuh tubuhku, atau sesuatu..... ?

Aku tahu, aku benar-benar tidak harus berpikir tentang saudara sedarah. Tapi kakakku dan aku sangat kaku.

Meskipun kita tinggal di rumah yang sama, kita jarang melihat satu sama lain.

Hanya sekarang kita bersama-sama, termasuk pergi dan pulang sekolah, adalah ketika pergi keluar. Kebersamaan seperti sekarang hanya terjadi selama perjalanan.

Sejauh yang kuingat, aku tidak punya kenangan tentang mandi bersama, bermain bersama, atau apa pun.

Bagiku, kakakku tidak seperti keluaga, melainkan seperti anak yang lebih tua satu tahun dari ku. Itu adalah perasaanku sebenarnya.

Itu mungkin hal yang sama untuknya.

Baginya, aku kemungkinan besar seseorang yang menghadiri sekolah yang sama, seorang gadis yang berumur setahun lebih muda......

Tanpa diduga, aku mendengar suara pergeseran pasir.

Aku tahu itu pasti kakakku bangkit.

Aku tidak bisa mengangkat kepala.

Sebaliknya, wajahku tenggelam ke dalam lenganku yang seperti bantal.

Aku mencoba memaksa tenaga ke lengan, kaki, dan punggung dan menemukan tubuhku punya ide lain.

Tubuhku kaku, tapi hati ini bersikeras untuk pergi.

Aku merasakan kakakku mendekapku.

Aku tidak bisa bernapas.

Kepalaku pusing.

Masih terlalu cepat untuk kekurangan oksigen, bagian rasional dari pikiranku tenang dan tanpa daya memberitahuku.

Tubuhku, menolak semua perintah untuk bergerak, aku dengan lembut ditutupi oleh kain tipis.

—Eh?

Aku bisa merasakan kain yang membentang dari bahu ke pahaku.

Ini adalah mantel yang telah aku ambil sebelumnya.

Ini mantel yang dilipat, kini memenuhi tubuhku.

Entah bagaimana, tiba-tiba, aku merasa aman.

Semua ketegangan yang tidak berarti menghilang, dan mungkin akibatnya pikiranku mulai melayang sebagai gantinya.

Tanpa membiarkan diriku lebih jauh menganalisi diri sendiri, aku merasa mengantuk.


Pada akhirnya, aku benar-benar harus berterima kasih kepada Sakurai-san. Terlepas dari kenyataan aku berada di bawah payung, aku telah tertidur pas sinar matahari yang menyengat selama beberapa waktu. Jika aku tidak dioles tabir surya sampai ke kuku, kaki tidak diragukan lagi akan menderita luka bakar sekarang.

"Panas....."

Saat aku menyalahkan gangguan untuk tidur di panas yang tanpa ampun, kakakku, seperti yang diharapkan, masih disampingku melihat ke arah ufuk.

"..... Berapa lama aku tertidur?"

"Sekitar dua jam."

Aku mengajukan pertanyaan tanpa basa-basi.

Namun, dia menjawab tanpa ragu sedikitpun.

Hampir seolah-olah jika ia mempunyai jawaban dari pertanyaanku.

Jawabannya langsung, sepertinya ia tidak mau memberiku waktu untuk berpikir.

"Oh, begitu."

Aku sama-samar melihat sesuatu, tapi kepala ku masih pusing dari tiba-tiba terbangung, dan aku tidak bisa menggerakkan jariku.

Saat aku bangun, mantel ku merosot ke tikar.

Mungkin karena angin laut meniup pasir ke mana-mana, meskipun aku tertidur pada selembar tikar, bagian bawah tubuhku terasa sedikit kasar.

"Aku akan berenang."

Tanpa menunggu jawaban, aku melepas sandal.

Di sekeliling tikar, banyak terdapat jejak kaki. Tadinya kan tidak ada. Beberapa bagian telah rata, meyerupai punggung orang yang jatuh. Mungkinkah beberapa orang telah bermain voli pantai...... ?

Jumlah payungnya juga berkurang.

Tampaknya banyak yang terjadi ketika aku tertidur, aku malas berpikir, saat aku menuju pantai.

◊ ◊ ◊

Setelah makan siang, aku menghabiskan waktu dengan membaca di kamarku. Namun, setelah dua jam aku bosan. Ini bukan seperti aku tidak suka

membaca, aku hanya tidak benar-benar merasa seperti itu hari ini.

Aku rasa aku akan menunjukkan praktek sihirku ke Okaa-sama.

Berpikir seperti itu, aku pergi ke kamarnya.

Kamarku berada di tengah-tengahnya lantai dua.

Kamar Okaa-sama berada di seberang tangga disisi lain.

Kamar sebelahnya kosong dan yang disebelah tangga kamar kakakku.

Melewati kamar kakakku, aku mendengar suara dari dalam.

Tanpa pikir panjang, aku berhenti.

Resor ini cukup standar, yang berarti tidak seperti rumah kami, yang sepenuhnya kedap suara. Namn meskipun begitu, suaranya tidak kecil itu suara

normal yang bisa terdengar dari lorong. Bagi mereka yang ingin mendengar, mereka harus berbicara sangat keras.

Belum lagi suara barusan, ... Sakurai-san? Secara alami, aku menekan telingaku ke pintu.

"Bagaimana kau bisa meninggalkan pukulan yang mengerikan seperti ini tanpa pengobatan!"

Sakurai-san mungkin memarahi kakakku.

"Ini bukan masalah. Tidak ada kerusakan yang berakibat ke tulan."

"Jangan bertindak seolah-olah semuanya baik-baik saja asalkan tidak ada patah! Apa tidak sakit!?"

"Ada rasa sakit. Namun, itu tidak lebih dari sebuah hukuman yang telah aku tetapkan untuk diriku sendiri."

Nyeri?

Hukuman?

—Apa yang mereka bicarakan?

"Haa .... kau selalu seperti ini .... Tatsuya-kun, aku menyerah untuk memperbaiki emosimu tapi .... Setidaknya biarkan aku menyembuhkanmu dengan sihir, jadi buka pakaianmu."

Selalu?

"Tidak perlu. Jika itu menjadi hambatan dalam pertempuran, ia akan memperbaikinya sendiri."

".... Tatsuya-kun, bahkan [Penjaga] memiliki kehidupan sehari-hari. Karena kita tidak bertarung seperti mesin.  Ngomong-ngomong, tentang kejadian itu, akan lebih baik untuk membangunkan Miyuki-san dan meninggalkan mereka. Sebagai [Penjaga], meskipun kita mematuhi keinginan tugas kita dan kebebasan untuk sepenuhnya, itu bukan alasan untuk masuk ke pertengkaran hanya karena kau tidak ingin mengganggu tidur siang."

.... Eh? Aku?

"Aku menyesal."

"Seriuslah, silahkan pikirkan insiden ini baik-baik? Melarikan diri juga merupakan taktik sempurna yang terhormat. Tatsuya-kun, kau harus belajar untuk lebih fleksibel."

Aku tidak mendengar suara mendesah, melainkan merasakan bahwa Sakurai-san telah selesai dan bersiap untuk pergi.

Buru-buru, sepelan mungkin, aku kembali ke kamarku.

◊ ◊ ◊

Yacht yang Sakurai-san siapkan adalah sebuah kapal layar enam tempat duduk dengan motor listrik yang terpasang.

Empat dari kita bersama dengan juru mudi dan asistennya mengisi perahu dengan kapasitas penuh.

Aku duduk menunggu keberangkatan di kursi yang diatur berhadap-hadapan. Di depanku ada Okaa-sama dan disamping ada kakakku.

Berpura-pura untuk melihat layar yang disiapkan, aku melihat sekilas wajah kakakku.

Dia sedang asyik dengan pekerjaannya dan tidak melihat tatapanku.

Sejak aku mencuri dengar pembicaraan mereka, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

Kakakku adalah pengawalku.

Cedera karena melindungiku seperti yang diharapkan

Tapi sampai sekarang, aku jarang melihat kakakku terluka.

Konfrontasi langsung seperti kemarin juga langka.

Berbicara tentang luka-lukanya, mereka di dapatkan dari pelatihan.

Karena itulah mengapa aku, meskipun calon penerus Yotsuba, selalu naif bila mengasumsikan ada sedikit manusia cukup tercela untuk memilih anak-anak.

Hal seperti itu mungkin ada di novel, tetapi kenyataannya berbeda.

Di tempat Fumiya-kun, tidak seperti Yotsuba, pekerjaan Ojii-sama tampak mudah.

[Penjaga] yang melekat padaku merupakan yang secara personal terkait dengan calon penerus Yotsuba.

Oleh karena itu, bagian dari ku yang selalu berpikir untuk anak kecil seperti kakakku yang ditugaskan sebagai [Penjaga]  demi memberikan kakakku yang kekurangan teknik sihir tempat di Yotsuba.

Tapi dari percakapan mereka sebelumnya, cedera itu tampak menjadi sesuatu bagian yang mengalir.

"Miyuki-san, ada sesuatu yang mengganggu anda?"

"Ah, tidak, tidak apa-apa."

Saat itu suara yang tidak terduga, aku buru-buru berbalik.

Tidak baik, tidak baik.

Aku membuat Okaa-sama khawatir.

"Sudah cukup lama aku tidak berlayar......"

"Ah, benar."

Berpura-pura melihat layar yang sedang disiapkan tampaknya bekerja.

Tapi itu tidak akan menempatkan mereka tanpa batas waktu, dan aku memutuskan untuk menunda pemikiranku saat ini.

Tepat pada waktunya, sepertinya kita akan berangkat.

Terlepas dari kenyataan kita tidak menggunakan motor, kita menjauh dari dermaga dengan kecepatan lebih besar dari yang aku harapkan.

Aku memfokuskan pikiran pada pemandangan yang berhamburan.


Dalam menghadapi angin barat, kita menuju ke arah utara-barat laut.

Karena aku berasumsi bahwa musim panas di Okinawa, angin arah tenggara yang harusnya bertiup. Aku bertanya ke kaptern tentang hal itu, dan dijawab oleh kapten bahwa daerah bertekanan rendah mendeka dari Laut Timur.

Aku juga diberitahu bahwa itu tidak akan tumbuh menjadi angin topan, jadi aku tidak harus peduli.

Aku bahkan tidak menyadari itu, jadi kekhawatiranku telah pergi...... tapi tidak seperti aku sudah di laut untuk waktu yang lama, jadi tidak perlu cemas berlebihan.

Meskipun kami berlayar menuju Iejima, titik perjalanan itu sendiri tengah berlayar sehingga kami merencanakan untuk kembali separuh jalan. Dengan kecepatan angin saat ini, meskipun kami sudah berlayar setengah jalan itu akan menjadi senja.

Berlayar lebih nyaman daripada yang telah aku antisipasi.

Rasanya seperti hatiku kebingungan ketika aku tersapu angin.

Jika aku tahu, aku menyukai untuk pergi lebih awal dan lebih jauh lagi.

Aku memejamkan mata dan untuk sementara mendengarkan suara angin di layar.

Jika kita dapat mengakhiri hari seperti ini, aku seharusnya bisa tidur sangat nyaman malam ini.

Seharusnya, karena aku tahu bahwa ini tidak bisa selamanya.


Setelah merasakan angin yang menusuk, aku membuka mataku.

Sakurai-san sedang mencari dengan keras ke laut, atau lebih tepatnya, melotot.

Kata-kata yang diucapkan asisten saat ia mati-matian menghubungi radio — kapal selam? Dalam situasi ini, aku tidak berpikir itu Angkatan Laut. Mungkinkah orang asing? Ini adalah perairan Jepang. Jangan bilang..... tindakan pendudukan!?

Itu tidak hanya membuatku mulai resah. Seolah-olah kapal itu sendiri telah menekan tombol panik, motor berdecit saat ia bergerak dan layar yang disimpan.

Kemudi berputar ketika yacht ini miring, dan aku meraih pegangan.

"Ojou-sama, mohon pergi ke depan."

Meskipun aku tahu ini bukan waktu yang tepar, kakakku tiba-tiba memanggilku "Ojou-sama" merupakan kejutan yang cukup besar.

Ini adalah sesuatu yang terjadi, tapi memanggilku seperti itu seolah-olah aku orang asing membuatku sedih.

Sebagai tanggapan, sikapku tidak perlu mengeras.

"Aku tahu!"

Dengan membentak, aku patuh dan meninggalkan kuris.

Aku mengamati laut yang berbusa.

Meskipun saudaraku telah kembali ke dekatku dan aku tidak bisa melihat wajahnya, aku akan tahu perubahan matanya jika aku memegang tangannya.

Bukan melotot, atau menatap.

—Seperti tidak ada ekspresi dan hampa, mata dari kekosongan.

Sakurai-san berdiri di sisi buritan melindungi Okaa-sama.

Okaa-sama merupakan penyihir yang sangat kuat, tapi kekuatannya telah menurun baru-baru ini. Hubungan antara sihir dan tubuh masih belum sepenuhnya di pahami, tetapi penggunaan sihir yang kuat sebanding dengan tekanan ke tubuh.

Okaa-sama pasti tidak diizinkan untuk menggunakan sihir.

Memikirkan hal itu, aku buru-buru mengeluarkan CAD dari kantong.

Sakurai-san sudah menyiapkan CAD-nya.

Dan saudaraku—tangan kosong, hanya berdiri di sana.

Dari belakang ombak, dua bayangan hitam dengan cepat mendekati kami

Lumba-lumba? Apa-apan itu!

Aku bisa mengidentifikasi secara alami.

Torpedo!? Tanpa peringatan apapun!?

Ketika aku terdiam, saudaraku berdiri di depanku membuat gerakan yang tidak bisa dijelaskan. Dia mengangkat tangan kanannya ke laut pada saat bayangan hitamnya lebih mendekat.


Tanpa CAD, apa kau tahu tidak ada gunanya membuat gerakan yang benar?


Bahkan jika sedikit, kau masih seorang penyihir kan!?


Aku mengumpat diam-diam, tidak hanya jengkel pada saudaraku yang meniru gerakan tanpa mengetahui tujuan mereka, tapi jengkel pada ketidakberdayaannya juga.

Dengan banyak pikiran yang berkecamuk di kepalaku, aku menatap Sakurai-san. Sebagai [Penjaga] Okaa-sama, pasti dia akan melakukan sesuatu di tempat saudaraku yang tidak berguna, dan mencaci maki dia dari pelariannya.

Tapi aku berhenti.

Lebih cepat dari pengaktifan Sakurai-san, saudaraku, seperti kilatan petir, sihirnya di lepaskan.

Itu cukup cepat, aku bahkan tidak menyadari itu adalah tanda sihir yang telah dipanggil.

Torpedonya tenggelam ke bagian bawah laut.

Ketika torpedonya tenggelam, bayangannya meluas. Apa torpedonya hancur?


Apa yang dilakukan orang ini.....?


Tanpa bantuan sihir atau apapun......?


Keraguan dan penolakan berperang dipikiranku, penyihir di dalam diriku memberitahu bahwa fenomena ini tanpa diragukan lagi disebabkan oleh saudaraku, yang telah menggunakan sihir luar biasa yang tidak bisa dipercaya untuk mengganggu struktur informasi torpedo dan mencapai keadaan ekstrim dari penguraian.

Orang ini, yang , terlepas dari kemampuan untuk menetralisir sihir lain, seharusnya tidak memiliki kemampuan sihir, apa...?

Mungkinkah aku tidak benar-benar tahu sedikitpun tentang saudaraku?


Apa aku tidak benar-benar mengerti tentang dia sama sekali?


Selagi sihir Sakurai-san bekerja di bawah air, aku hanya menatap punggung saudaraku, kembali ke anak-anak yang biasa muncul di luar.





Chapter 05 | MKnR | Chapter 07

Artikel Terkait

Previous
Next Post »