Highschool DxD Vol 20 - Faker

11:21:00 AM
Highschool DxD Vol 20 - Faker



Italia, di suatu tempat.
Seorang pemuda mengunjungi kebun anggur dari pertanian tertentu di daerah terpencil Italia. Sambil berjalan ke depan, sang pemuda — pemegang Tombak Suci Cao Cao, memasuki pandangan pria tua yang sedang bekerja di kebunnya. Pakaian berkebun dan sebuah topi jerami dikenakannya dengan sangat baik, dan dia juga terlihat mengesankan. Sekilas dari jauh, orang berpikir kalau pria tua itu sebelumnya telah bertugas di militer atau beberapa pelatihan olahraga. Namun, pria tua ini bukanlah orang biasa. Meskipun pria tua ini mendeteksi keberadaan Cao Cao beberapa saat yang lalu, dia membuka mulutnya untuk berbicara bahkan tanpa melihat ke arahnya.

"Peninggalan Suci, ini adalah pertama kalinya aku ditemui aura seperti ini."

Pria tua memberikan senyuman lembut di wajahnya yang berkerut.

"Buongiorno[1] pemilik Tombak Suci, selamat datang ke kebun ini."

Pria tua yang memakai topi menyambutnya — bukan, itu pastinya Kardinal Vatikan Imam Vasco Strada. Beberapa saat yang lalu, dia adalah orang penting dari Gereja yang memimpin banyak kesatria Gereja yang memberontak. Kalah dalah pertempuran melawan anti-teroris [DxD], dia menerima hukuman Surga tanpa perlawanan. Melaporkan segala sesuatu tanpa kebohongan ke Surga, Kardinal Tua ini sekarang ditahan di kebun ini. Bahkan ada penghalang yang kuat dipasang dengan radius beberapa kilometer dari kebun ini. Ini tidak akan menjadi tugas yang mudah atau sederhana untuk melarikan diri; ini yang disebut prison barrier. Karena Tuhan, dan kepercayaan yang dia abdikan sepanjang hidupnya; dalam usahanya untuk mewujudkan perasaan kesatria Gereja, pemegang Durandal sebelumnya dilucuti dari posisinya, dan dibatasi dalam apa yang disebut penjara yang agak santai. Memang melakukan kesalahan, dilihat dari skala insiden yang dia bawa, bukan hanya harus dilucuti dari posisinya, mungkin dia akan harus menggunakan seluruh hidupnya sebagai hukuman atas kejahatannya. —Namun, mengingat prestasinya di masa lalu, keyakinan, dan permintaan dari banya kesatria Gereja, dia akhirnya dikirim ke sini.

"Ini adalah tanah di mana aku awalnya dibesarkan. Kadang, kadang, aku datang ke sini untuk menanam pepohonan.... sepertinya aku harus sungguh-sungguh bekerja keras di sini di masa depan."

Strada berkata saat dia mengelus kulit pohon.

"Ini adalah pertama kalinya kita bertemu, Yang Mulia. Aku kesatria terdepan Indra."

Pemegang Tombak Suci mengenalkan dirinya sendiri dan Starada kemudia berbicara sambil dia menyeka keringat di wajahnya dengan handuknya.

"Aku mengerti, seorang Dewa Pagan[2] ingin bertanya sesuatu pada pria tua ini, bukankah begitu?"

Kardinal Tua itu berpikir bahwa kunjungan Cao Cao  karena Indra memiliki pesan untuknya. Tapi, Cao Cao menggelengkan kepalanya.

"Tidak, andak tidak tampak berpikir bahwa aku juga bisa datang untuk berkunjung semata-mata atas dasar pribadi."

Mendengar kata-kata Cao Cao, Strada tertawa dengan ketertarikan.

".... Hoho, ini benar-benar cukup tidak terduga. —Nah kemudian, setelah datang jauh-jauh ke tempat yang jauh, apa yang ingin kau katakan padaku?"

Cao Cao, mendengar pertanyaan Strada, membuka mulutnya untuk menjawab tetapi diam sejenak, sebelum akhirnya bertanya.

"..... Menjadi seorang pahlawan, apa yang anda pikirkan, Yang Mulia?"

Mungkin karena itu melebihi harapan awalnya untuk sebuah pertanyaan, Strada awalnya terkejut, tapi kemudian mengusap dagunya sambil berpikir.

".... Hmm, ini benar-benar pertanyaan yang aneh, anak muda."

Cao Cao melihat ke bawah dan melanjutkan

".... Aku lahir sebagai pewaris darah pahlawan tertentu. Di atas semua itu, aku dipilih oleh Tombak Suci. Aku percaya.... yang disebut [Pahlawan] berada di puncak kemanusiaan, mampu untuk mengalahkan eksistensi dunia lain yang kuat, aku jadi berharap, jadi pemikiran, dan begitu hidup."

Dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke langit, dan kemudia berkata.

"...Tapi, aku dikalahkan oleh Iblis Reinkarnasi tertentu. Jalan hidupku benar-benar diambil dari ku tepat di depan mataku olehnya.... Mungkin dia tida pernah dianggap, tapi kekalahan itu menjadi kesempatan ku untuk meninjau dan mengubah jalan hidup ku.... Yang Mulia orang yang dikagumi orang-orang sebagai seorang pahlawan, aku memang ingin anda memberitahuku apa itu seorang pahlawan."

Untuk seseorang yang tidak hanya mewarisi darah pahlawan, namun secara kebetulan juga Tombak Suci, dilahirkan sebagai seorang jenius, ini adalah pertama kalinya dia menjumpai sebuah "dinding". Dia secara alami mewarisi garis keturunan leluhurnya ketika dia dilahirkan, dan oleh takdir, dia memegang Tombak Terkuat yang bahkan bisa mengalahkan Dewa. Awalnya, dia adalah eksistensi yang tidak kompatibel dengan manusia — berburu hal-hal gaib[3], mengalahkan hal-hal gaib, menghukum hal-hal gaib, sebagai jalan hidup, dan mengejar kekuatan sebagai alasan untuk eksis. —Tapi di depan Naga Merah dan Naga Putih, bahkan tombak yang dia pegang di tangannya menolaknya.

Kalu lemah, kau hanya seorang anak yang memperoleh kekuatan tombak terkuat, itu yang dikatakan.

Mendengar pertanyaan Cao Cao, Strada tersenyum.

".....Hehehe"

Cao Cao hampir terkejut, pria tua ini berkata

"Ini sama sekali tidak sopan. —Kau terlalu muda. Kau benar-benar terlalu muda. Meskipun kau terlihat 20 tahun, dibandingkan dengan ku, kau tidak berbeda dari seorang bayi kecil. Sejak kau menyebut dirimu seorang pahlawan, kau sudah keliru."

Strada menegaskan.

"—Mereka yang menentukan pahlawan adalah orang-orang tanpa kekuatan. Karena mereka tidak memiliki kekuatan, mereka akan merindukan kekuatan, sehingga mereka mencari pahlawan, dan memutuskan siapa pahlawannya. Pemegang Tombak Suci, apa kau memainkan peran pahlawan dari orang-orang?"

"....Yah"

Cao Cao tidak bisa berkata-kata.... Dia tidak dipilih oleh siapapun. Hanya karena dia keturunan dari salah satunya, dia berpikir bahwa itu sudah seharusnya. Itu sudah seharusnya, karena itulah dia meremehkan darah yang mengalir melalui pembuluh darahnya, dan tombak yang dia miliki. Strada membungkuk dan duduk di sebuah kotak kayu yang ditempatkan di kebun kemudian melanjutkan

"Tidak diikuti oleh orang-orang, yang mengaku sebagai seorang pahlawan, itu bukan apa-apa tetapi sebuah permainan bocah dari kepura-puraan. Justru karena ini, kau tidak cocok dengan bocah Sekiryuutei yang berani berjalan pada caranya sendiri."

Kata-kata pria tua itu benar-benar membantah adanya Faksi Pahlawan itu sendiri. Seperti yang dia katakan, dan Cao Cao tidak dapat membantahnya.

.... Itu benar, seperti yang dikatakan Strada, dia, orang itu, berani menghadapi ku, dan dengan berani mengalahkan ku. Apakah itu sebagai Sekiryuutei, atau sebagai seorang Iblis, untuk tujuannya sendiri, untuk orang-orang yang dia lindungi, dia berani bertarung dengan segala sesuatu yang dia miliki. Keberadaan ku benar-benar di tolak, dan bahkan aku dikalahkan olehnya—. .... Melihat diriku yang sekarang, apa yang dipikirkan orang-orang yang pernah mengikuti dan mengagumi ku?

Strada terdiam beberapa saat, kemudia menatap Cao Cao dan berkata

"Kau hanya manusia biasa. Dan hanya seorang pemuda saat itu. Nenek moyang mu mungkin seorang pahlawan —kenyataannya, nenek moyang mu tetap manusia biasa. Dengan demikian kau masih seorang manusia. Bukankah disebut pahlawan bila dipuji orang-orang yang maju ke depan dengan berani?"

.... Sekiryuutei juga, masyarakat Dunia Bawah mulai menghormatinya karena dia selalu menyerang langsung ke depan. Apakah awalnya dia pernah berpikir menjadi seorang pahlawan? Tentu saja, jawabannya adalah — tidak.

Kardinal tua itu tersenyum sambil berkata

"Meskipun akau dipanggil pahlawan, bahkan pada usia ini aku tidak menganggap diriku untuk menjadi pahlawan. —Tapi selama ada orang yang melihat ke arah ku, aku akan terus dipanggil pahlawan. Aku hanya manusia. Aku hidup seperti manusia lainnya, dan aku akan mati seperti manusia lainnya. Itu cukup. Jika orang-orang menghormatiku sebagai pahlawan, maka itu baik-baik saja."

Untuk sesaat, sosok pria tua itu dan Sekiryuutei tampak tumpang tindih.

....Aku takut bahwa dia akan mengatakan bahwa

Pria tua itu tertawa

"Hehehe"

sambil mengenakan topinya dan berdiri.

"Ah, aku sudah tua sekarang, jadi aku berbicara panjang lebar.... Awalnya, kau sudah memiliki gagasan yang kabur dari jawaban ini."

"... Itu mungkin benar. Sejak aku kalah darinya, aku—"

Tanpa berpikir tentang konsep ini "yang disebut pahlawan", dia menjadi penantang biasa.

"Yang Mulia, bisa kah aku mengalahkan pria itu?"

Pemuda yang berpura-pura menjadi pahlawan kemudian bertanya. Pria tua itu tersenyum sambil berkata dengan lancar

"—Pergilah dan cintai sesuatu. Apakah itu diri sendiri. Atau bahkan sesuatu yang tidak berwujud. Cinta, jika kau tidak memiliki hati yang mencintai sesuatu, maka kau tidak akan dapat mencapai seseorang yang memiliki cinta. Objek yang kau cintai akan muncul di depanmu, dan pada saat itu, kau akan — memiliki 'kekuatan' dalam tubuh mu."

Setelah Strada mengatakan itu, dia kembali ke pekerjaannya.

"Pertama, kau harus terus mengejar bocah Sekiryuutei. Karena dia ada mempunyai cinta, hidup dengan cinta. Dibandingkan dengan tulang-tulang tua[4] ini, kau berusia sama dengannya namun kehadirannya lebih dari sepuluh ribu kali daripada mu."

Sekiryuutei Hyoudou Issei yang hidup karena cinta— Karena kata-kata itu, Cao Cao mengingat waktu sebelumnya ketika dia bertemu Hyoudou Issei dalam pikirannya.

.... Itu benar, tidak hanya pria itu dicintai oleh orang lain, dia mencintai mereka juga, karena itulah dia bertarung dengan ku berhadap-hadapan. Itu adalah dasar dari Sekiryuutei, Hyoudou Issei—.

Cao Cao tersenyum saat dia menatap tombaknya

"Akankah kau yang diingat oleh tombak ini juga mengejar "cinta" itu?"



Catatan Translator
[1] Buongiorno: Sebuah ucapan dalam bahasa Italia yang berarti Selamat Pagi/Siang
[2] Dewa Pagan: Seorang Dewa dari agama selain Kristen
[3] Istilah yang digunakan di sini adalah 異形 , yang berarti sesuatu yang tidak teratur atau alien. Mungkin hal gaib untuk konteks ini cocok.
[4] Strada menyebut dirinya sebagai ryokotsu ( 老骨 = old bones )yang merupakan cara lain untuk menyebut dirinya sebagai seorang pria tua 

Next - Life 0

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Anonymous
AUTHOR
October 19, 2015 at 2:03 PM delete

msh ada lanjutan gk gan?

Reply
avatar
Fandi Akhmad
AUTHOR
October 21, 2015 at 8:39 AM delete

Ada nih http://www.zigish.net/2015/10/highschool-dxd-vol-20-life-0.html

Reply
avatar