Highschool DxD Vol 20 - Deterrence (Summary)

10:44:00 AM
Highschool DxD Vol 20 - Deterrence (Summary)



   ──Wilayah Malaikat Jatuh, di Dunia Bawah.

Malaikat Jatuh  membuat sebuah resor khusus untuk VIP dari setiap fraksi. Sekarang mereka sudah memulai bisnis akomodasi.


Seorang anak laki-laki bisa ditemukan di tepi kolam renang.

Dia berada di bawah payung dan berbaring di kursi santai. Tatapannya terlihat difokuskan pada permukaan air di kolam renang.

Melihat bayangan yang hanya dia bisa lihat──。

Sebuah binatang besar yang mengeluarkan aura keji dan melayang di sekitarnya tak terhitung jumlahnya armor merah yang lengkap.


Anak laki-laki yang menonton apa yang mungkin terlihat menjadi awal dari penghabisan---mengarahkan perhatiannya ke papan permainan yang terhampar di atas meja terlebih dahulu dan menggerakkan sepotong permainan.



  "「Chaturanga」──. Sebuah permainan papan yang dikatakan asal dari catur dan shogi."

Sebuah suara yang terdengar tiba-tiba. Itu berasal dari Iblis laki-laki yang memiliki aura misterius.

Iblis itu kemudian duduk di seberang meja anak laki-laki dan menggerakkan sepotong permainan pada papan permainan - Chaturanga dan memberi isyarat giliran ke anak laki-laki itu untuk bermain.

Dia berkata ke anak itu, :Sebuah kebetulan bisa bertemu dengan anda di sini, Shiva-sama."


Anak yang dipanggil Shiva, Dewa Kehancuran, yang tersenyum dan menjawab.
    "Pertemuan ini tidak bisa dihindari. ---Senang bertemu denganmu juga, Beelzebub saat ini, Ajuka."


Shiva mulai menggerakkan sepotong permainan juga menyetujui undangan undangan Ajuka untuk bermain.

Selama bermain game, Ajuka mengatakan kalau dia mendengar SHiba menerima permintaan
aliansi untuk menundukkan 666.

Shiva menjawab, "Untuk sementara. Tapi....... ini tak terduga. ──Mungkin mustahil, bahkan untukku. Jika binatang itu tidak disegel, dunia akan hancur."

Ajuka kemudian berkata untuk meresponnya, "Menyegel? Anda, Dewa Kehancuran yang bisa menghancurkan dunia ini, berbicara tentang penyegelan?"

Shiva hanya mengangkat bahu dan menjawab kalau 666 mustahi untuk dibunuh, bahkan oleh dia. Dia menambahkan fakta nyata untuknya (Ajuka) dan Azazel juga. Binatang itu hanya bisa disegel atau sesuatu yang dekat seperti itu. Yang bisa dihancurkan binatang itu. Namun, Shiva mengatakan kalau binatang legendaris tidak cukup lembut untuk ditangani dengan kehancuran saja.

Shiva tertawa tentang ironi dan Ajuka menyimpulkan bahwa hanya Great Red dan Ophis (sebelum terpisah) saja yang bisa "menghancurkan" 666.


Shiva bertanya ke Ajuka apa alasannya untuk bertemu dengannya sambil menguap.

Ajuka menjawab anak itu dengan menaikkan dua jari. Dia mengatakan hanya ada dua alasan. Salah satunya adalah agar Shiva tidak mengganggu temannya Sirzechs. Dan yang kedua, untuk memastikan Shiva tidak memulai kehancuran ketika ada peluang di depan matanya.

Di belakang Ajuka ada seorang  wanita dengan rambut biru panjang yang berdiri sendirian. Suasana dingin terpancar dari kecantikannya, digabungkan dengan aura Naga yang kuat. Bahkan dalam bentuk manusianya, mudah untuk melihat kekuatan besar yang dia punya.

Shiva mengenalinya sebagai Tiamat. Dia adalah Raja Naga terkuat dan salah satu yang terbaik di antara Naga. Dan di tangannya, dia memegang perangkat berwarna biru seperti ponsel.


Shiva segera merasakan kelainan yang berasal dari ponsel. Dia meyakini kalau Longinus ada hubungannya dengan itu.

Dia tidak yakin apakah itu nyata atau tidak, tapi dia yakin jika ini disiapkan oleh orang yang susah dipahami, maka akan membuat Dewa Kehancuran sedikit kesulitan.

Shiva bertanya-tanya mengapa sebuah Longinus dibawa ke sini dan apa niat mereka dengan membawa itu.

Dia tertawa dan bertanya ke Ajuka apa mereka berniat untuk menghancurkan dunia bersama dengan 666.

Ajuka menjawab bahwa itu tidak demikian. NAMUN, kehancuran dan regenerasi dunia lain adalah hal yang lain.

Dewa sangat tertarik pada apa yang Ajuka simpulkan dan mengatakan kalau itu menarik.

Ajuka menjelaskan alasan di balik apa yang dia katakan. "Ketika kita menganggap 666 mampu memimpin Great Red  ke tempat lain dan gerbang ke dunia lain dibiarkan terbuka, apa yang akan anda lakukan? Tidak ada mengenai hal ini dalam janji anda dengan Azazel dan Sirzechs. Anda hanya dibawa sebagai pencegah terhadap 666."

Dewa Kehancuran gemetar dari lubuk hatinya. Dia berpikir kalau Ajuka adalah Iblis yang baik. Maou yang sudah memprediksi sejauh ini.

Shiva menertawakannya dan menjawab tanpa benar-benar menjawab pertanyaan AJuka.

"Hahaha, Kau jeli, Beelzebub saat ini. Sekarang aku mengerti kenapa makhluk mitologi lainnya takut denganmu lebih dari Sirzechs. Tapi aku bukan salah satu dari mereka."


──Mungkin.

Maou memikirkan hal ini hanya sebagai spekulasi tapi ketika Shiva terlibat, itu akan menjadi hal yang berbeda. Namun, Ajuka belum menyerah.

Ajuka mengangguk dan tersenyum penuh arti. Dia berkata mungkin begitu. Itu sebabnya dia akan di sini dengannya saat mereka menonton takdir dunia yang terhampar untuk mencegah sedikit kemungkinan. Dia menyimpulkan hal itu setelah menggerakkan sebuah potongan di papan.



Shiva berkata sambil menggerakkan potongan sebagai tanggapan.

"Apa kau berniat untuk melakukan hal yang sama seperti Sirzechs Lucifer lakukan ke Hades? Seberapa penting persahabatanmu dengannya?"
(Perbedaan antara Shiva dan Hades adalah Shiva tidak memiliki dendam dan kebencian yang dimiliki Hades)



Shiva memikirkan tindakan Ajuka yang sedikit berani. Jika itu dilakukan dengan cara kekanak-kanakan, dia pasti diusir dan tidak ada diskusi.

Dewa mengangguk diam-diam. Dia sekarang mengerti mengapa Sakra tertarik kepada orang-orang di dunia ini. Dia berpikir kalau orang-orang ini benar-benar menarik dan dia ingin melihat lebih banyak.


Setelah mendengar nama Sirzechs, ekspresi Ajuka mereda sejenak.

"Ini adalah cerita sederhana. Jika anda menjadi musuh orang itu, maka anda akan menjadi musuh saya juga."

Dilihat dari wajah Ajuka ketika berbicara persahabatannya dengan orang itu, Shiva melihat kalau dia berbicara dengan niat sebenarnya.

Dewa Kehancuran kemudian meletakkan tangan di pipinya dan berkata.

"Aku mengerti. Kemudian, lihat bersama-sama dengan ku. ──Trihexa dan nasib dunia ini."

Artikel Terkait

Previous
Next Post »